puasa khusus rajab

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah,
amma ba’du,
Tidak terdapat amalan khusus terkait bulan
Rajab, baik bentuknya shalat, puasa, zakat,
maupun umrah. Mayoritas ulama menjelaskan
bahwa hadis yang menyebutkan amalan di
bulan Rajab adalah hadis dhaif dan tertolak.
Ibnu Hajar mengatakan,
“Tidak terdapat riwayat yang sahih yang layak
dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab,
tidak pula riwayat yang shahih tentang puasa
rajab, atau puasa di tanggal tertentu bulan
Rajab, atau shalat tahajud di malam tertentu
bulan rajab. Keterangan saya ini telah didahului
oleh keterangan Imam Al-Hafidz Abu Ismail Al-
Harawi.” (Tabyinul Ujub bi Ma Warada fi Fadli
Rajab, hlm. 6)
Keterangan yang sama juga disampaikan oleh
Imam Ibnu Rajab. Dalam karyanya yang
mengupas tentang amalan sepanjang tahun,
yang berjudul Lathaiful Ma’arif, beliau
menegaskan tidak ada shalat sunah khusus
untuk bulan rajab,
“Tidak terdapat dalil yang sahih tentang
anjuran shalat tertentu di bulan Rajab. Adapun
hadis yang menyebutkan keutamaan shalat
Raghaib di malam Jumat pertama bulan Rajab
adalah hadis dusta, batil, dan tidak sahih.
Shalat Raghaib adalah bid’ah, menurut
mayoritas ulama.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)
Terkait masalah puasa di bulan Rajab, Imam
Ibnu Rajab juga menegaskan,
“Tidak ada satu pun hadis sahih dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan
puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya
terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa
beliau mengatakan, ‘Di surga terdapat istana
untuk orang yang rajin berpuasa di bulan
Rajab.’ Namun, riwayat ini bukan hadis. Imam
Al-Baihaqi mengomentari keterangan Abu
Qilabah, ‘Abu Qilabah termasuk tabi’in senior.
Beliau tidak menyampaikan riwayat itu,
melainkan hanya kabar tanpa sanad.’ Riwayat
yang ada adalah riwayat yang menyebutkan
anjuran puasa di bulan haram
seluruhnya” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)
Keterangan Ibnu Rajab yang menganjurkan
adanya puasa di bulan haram, ditunjukkan
dalam hadis dari Mujibah Al-Bahiliyah dari
bapaknya atau pamannya, Al-Bahily. Sahabat
Al-Bahily ini mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam, setelah bertemu dan menyatakan
masuk islam, beliau kemudian pulang
kampungnya. Satu tahun kemudian, dia
datang lagi menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
“Ya Rasulullah, apakah anda masih mengenal
saya.” Tanya Kahmas,
“Siapa anda?” tanya Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam.
“Saya Al-Bahily, yang dulu pernah datang
menemui anda setahun yang lalu.” Jawab
sahabat
“Apa yang terjadi dengan anda, padahal dulu
anda berbadan segar?” tanya Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
“Saya tidak pernah makan, kecuali malam hari,
sejak saya berpisah dengan anda.” Jawab
sahabat.
Menyadari semangat sahabat ini untuk
berpuasa, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
menasehatkan,
Mengapa engkau menyiksa dirimu. Puasalah di
bulan sabar (ramadhan), dan puasa sehari
setiap bulan.
Namun Al-Bahily selalu meminta tambahan
puasa sunah,
“Puasalah sehari tiap bulan.” Orang ini
mengatakan, “Saya masih kuat.
Tambahkanlah!” “Dua hari setiap bulan.” Orang
ini mengatakan, “Saya masih kuat.
Tambahkanlah!” “Tiga hari setiap bulan.”
Orang ini tetap meminta untuk ditambahi.
Sampai akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam memberikan kalimat pungkasan,
“Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa
(kecuali ramadhan)…, Berpuasalah di bulan
haram, lalu jangan puasa…, Berpuasalah di
bulan haram, lalu jangan puasa.” (HR. Ahmad,
Abu Daud, Al-Baihaqi dan yang lainnya. Hadis
ini dinilai sahih oleh sebagian ulama dan dinilai
dhaif oleh ulama lainnya).
Bulan haram artinya bulan yang mulia. Allah
memuliakan bulan ini dengan larangan
berperang. Bulan haram, ada empat:
Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Puasa di Bulan Haram
Hadis Mujibah Al-Bahiliyah menceritakan anjuan
untuk berpuasa di semua bulan haram,
sebagaimana yang ditegaskan Ibnu Rajab.
Itupun anjuran puasa ini sebagai pilihan
terakhir ketika seseorang hendak
memperbanyak puasa sunah, sebagaimana
yang disarankan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam kepada sahabat Al-Bahily.
Karena itu, terlalu jauh ketika hadis ini dijadikan
dalil anjuran puasa di bulan rajab secara
khusus, sementara untuk bulan haram lainnya,
kurang diperhatikan. Karena praktek yang
dilakukan beberapa ulama, mereka berpuasa di
seluruh bulan haram, tidak hanya bulan rajab.
Sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Rajab,
Beberapa ulama salaf melakukan puasa di
semua bulan haram, di antaranya: Ibnu Umar,
Hasan Al-Bashri, dan Abu Ishaq As-Subai’i.
Imam Ats-Tsauri mengatakan, “Bulan-bulan
haram, lebih aku cintai untuk dijadikan waktu
berpuasa.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213).
Para Sahabat Melarang
Mengkhususkan Rajab untuk Puasa
Kebiasaan mengkhususkan puasa di bulan
rajab telah ada di zaman Umar radhiyallahu
‘anhu. Beberapa tabiin yang hidup di zaman
Umar bahkan telah melakukannnya. Dengan
demikian, kita bisa mengacu bagaimana sikap
sahabat terhadap fenomena terkait kegiatan
bulan rajab yang mereka jupai.
Berikut beberapa riwayat yang menyebutkan
reaksi mereka terhadap puasa rajab. Riwayat ini
kami ambil dari buku Lathaiful Ma’arif, satu
buku khusus karya Ibnu Rajab, yang
membahas tentang wadzifah (amalan sunah)
sepanjang masa,
Diriwayatkan dari Umar bin Khatab radhiyallahu
‘anhu, bahwa beliau memukul telapak tangan
beberapa orang yang melakukan puasa rajab,
sampai mereka meletakkan tangannya di
makanan. Umar mengatakan, “Apa rajab?
Sesungguhnnya rajab adalah bulan yang dulu
diagungkan masyarakat jahiliyah. Setelah islam
datang, ditinggalkan.”
Dalam riwayat yang lain,
“Beliau benci ketika puasa rajab dijadikan
sunah (kebiasaan).” (Lathaif Al-Ma’arif, 215).
Dalam riwayat yang lain, tentang sahabat Abu
Bakrah radhiyallahu ‘anhu,
Beliau melihat keluarganya telah membeli
bejana untuk wadah air, yang mereka siapkan
untuk puasa. Abu Bakrah bertanya: ‘Puasa apa
ini?’ Mereka menjawab: ‘Puasa rajab’ Abu
Bakrah menjawab, ‘Apakah kalian hendak
menyamakan rajab dengan ramadhan?’
kemudian beliau memecah bejana-bejana itu.
(Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Qudamah
dalam Al-Mughni 3/107, Ibn Rajab dalam
Lathaif hlm. 215, Syaikhul Islam dalam Majmu’
Fatawa 25/291, dan Al-Hafidz ibn Hajar dalam
Tabyi Al-Ujb hlm. 35)
Ibnu Rajab juga menyebutkan beberapa
riwayat lain dari beberapa sahabat lainnya,
seperti Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, bahwa
mereka membenci seseorang yang melakukan
puasa rajab sebulan penuh.
Sikap mereka ini menunjukkan bahwa mereka
memahami bulan rajab bukan bulan yang
dianjurkan untuk dijadikan waktu berpuasa
secara khusus. Karena kebiasaan itu sangat
mungkin, tidak mereka alami di zaman Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kesimpulan:
Kesimpulan dari keterangan di atas,
1. Tidak dijumpai dalil khusus yang
menyebutkan keutamaan bulan rajab.
2. Tidak dijumpai dalil yang menyebutkan
keutamaan puasa rajab atau shalat sunah
khusus di bulan rajab.
3. Beberapa sahabat melarang orang
mengkhususkan puasa khusus di bulan
rajab atau melakukan puasa sebulan
penuh selama bulan rajab.
4. Dalil yang menyebutkan keutamaan
khusus bagi orang yang melakukan puasa
rajab adalah hadis dhaif, dan tidak bisa
dijadikan dalil.
5. Bagi orang yang rajin puasa, dibolehkan
untuk memperbanyak puasa di bulan
haram. Sebagaimana dinyatakan dalam
hadis Al-Bahily. Hanya saja, hadis ini
berlaku umum untuk semua puasa bulan
haram, tidak hanya rajab.
Allahu a’lam
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan
Pembina Konsultasi Syariah).
Artikel http://www.KonsultasiSyariah.com

Dikirim dari WordPress untuk BlackBerry.

Makna tauhid

Ahlus Sunnah wal Jama’ah
meyakini bahwa dua kalimat
syahadah merupakan dasar sah
dan diterimanya semua amal.
Kedua kalimat ini memiliki makna,
syarat-syarat dan rukun-rukun
yang harus diketahui, diyakini,
diimani dan diamalkan oleh
seluruh kaum Muslimin.
Makna kalimat ُﻪﻠﻟﺍ َّﻻِﺇ َﻪَﻟِﺇ َﻻ
Makna dari kalimat َﻻ َﻪَﻟِﺇ ُﻪﻠﻟﺍ َّﻻِﺇ
(laa ilaaha illallaah) adalah:
ُﻪﻠﻟﺍ َّﻻِﺇ ٍّﻖَﺤِِِِِﺑ َﺩْﻮُﺒْﻌَﻣ َﻻ .
“Tidak ada sesembahan yang
berhak di ibadahi dengan benar
kecuali Allah Subhanahu wa
Ta’ala.”
Ada beberapa penafsiran yang
salah tentang makna kalimat َﻻ َﻪَﻟِﺇ
ﺇِﻻَّ ُﻪﻠﻟﺍ (laa ilaaha illallaah), dan
kesalahan tersebut telah menyebar
luas. Di antara kesalahan tersebut
adalah:[[1]
1. Menafsirkan kalimat َﻻ َﻪَﻟِﺇ َّﻻِﺇ
ُﻪﻠﻟﺍ dengan َﻻ َﺩْﻮُﺒْﻌَﻣ َّﻻِﺇ ُﻪﻠﻟﺍ
(tidak ada yang diibadahi kecuali
Allah), padahal makna tersebut
rancu karena jika demikian, maka
setiap yang diibadahi, baik benar
maupun salah, berarti Allah.
2. Menafsirkan kalimat َﻻ َﻪَﻟِﺇ َّﻻِﺇ
ُﻪﻠﻟﺍ dengan َﻻ َﻖِﻻَﺧ َّﻻِﺇ ُﻪﻠﻟﺍ
(tidak ada pencipta kecuali Allah),
padahal makna tersebut
merupakan sebagian dari makna
kalimat َﻻ َﻪَﻟِﺇ َّﻻِﺇ ُﻪﻠﻟﺍ dan ini
masih berupa Tauhid Rububiyyah
saja, sehingga belum cukup. Inilah
yang diyakini juga oleh orang-
orang musyrik.
3. Menafsirkan kalimat َﻻ َﻪَﻟِﺇ َّﻻِﺇ
ُﻪﻠﻟﺍ dengan َﻻ َﺔَّﻴِﻤِﻛﺎَﺣ َّﻻِﺇ ُﻪﻠﻟﺍ
(tidak ada hakim (penguasa) kecuali
Allah), pengertian ini pun tidak
mencukupi karena apabila
mengesakan Allah hanya dengan
pengakuan atas sifat Allah Yang
Maha Penguasa saja namun masih
berdo’a kepada selain-Nya atau
menyelewengkan tujuan ibadah
kepada sesuatu selain-Nya, maka
hal ini belum termasuk definisi
yang benar.
Syarat-Syarat Kalimat [2] َﻪَﻟِﺇ َﻻ َّﻻِﺇ
ُﻪﻠﻟﺍ
Syarat Pertama: ُﻢْﻠِﻌْﻟَﺍ (al-‘ilmu)
Yaitu mengetahui arti kalimat َﻻ
ﺍﻟﻠﻪُ َّﻻِﺇ َﻪَﻟِﺇ (laa ilaaha illallaah).
Allah Azza wa Jalla berfirman:
ُﻪَّﻠﻟﺍ ﺎَّﻟِﺇ َﻪَٰﻟِﺇ ﺎَﻟ ُﻪَّﻧَﺃ ْﻢَﻠْﻋﺎَﻓ
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada
ilah yang berhak diibadahi dengan
benar kecuali hanya
Allah…” [Muhammad: 19]
Allah Azza wa Jalla juga berfirman:
َﻥﻮُﻤَﻠْﻌَﻳ ْﻢُﻫَﻭ ِّﻖَﺤْﻻِﺑ َﺪِﻬَﺷ ْﻦَﻣ ﺎَّﻟِﺇ
“Melainkan mereka yang mengakui
kebenaran, sedang mereka orang-
orang yang mengetahui.” [Az-
Zukhruf: 86]
Yang dimaksud dengan “mengakui
kebenaran” adalah ke-benaran
kalimat laa ilaaha illallaah.
Sedangkan maksud dari “sedang
mereka orang-orang yang
mengerti” adalah mengerti dengan
hati mereka apa yang diucapkan
dengan lisan.
Dalam hadits shahih dari Sahabat
‘Utsman Radhiyallahu anhu bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
ْﻦَﻣ َﺕﺎَﻣ َﻮُﻫَﻭ ُﻢَﻠْﻌَﻳ ُﻪَّﻧَﺃ َﻻ َﻪَﻟِﺇ َّﻻِﺇ
ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ َﻞَﺧَﺩ ُﻪﻠﻟﺍ .
“Barangsiapa yang meninggal
dunia dan ia mengetahui bahwa
tidak ada ilah (sesembahan) yang
berhak diibadahi dengan benar
selain Allah, maka ia masuk Surga.
”[3].
Syarat Kedua: ُﻦْﻴِﻘَﻴْﻟَﺍ (al-yaqiin)
Yaitu yakin serta benar-benar
memahami kalimat laa ilaaha
illallaah tanpa ada keraguan dan
kebimbangan sedikit pun.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
ﺎَﻤَّﻧِﺇ َﻥﻮُﻨِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ
ﺑِﻻﻠَّﻪِ ِﻪِﻟﻮُﺳَﺭَﻭ َّﻢُﺛ ْﻢَﻟ ﺍﻮُﺑﺎَﺗْﺮَﻳ
ﺍﻭُﺪَﻫﺎَﺟَﻭ ْﻢِﻬِﻟﺍَﻮْﻣَﺄِﺑ ْﻢِﻬِﺴُﻔْﻧَﺃَﻭ ﻲِﻓ
ﺍﻟﺼَّﺎﺩِﻗُﻮﻥَ ُﻢُﻫ َﻚِﺌَٰﻟﻭُﺃ ۚ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻞﻴِﺒَﺳ
“Sesungguhnya orang-orang yang
beriman kepada Allah dan Rasul-
Nya kemudian mereka tidak ragu
dan berjuang di jalan Allah dengan
harta dan dirinya, merekalah
orang-orang yang benar.” [Al-
Hujuraat: 15]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
… ُﺪَﻬْﺷَﺃ ْﻥَﺃ َﻻ َﻪَﻟِﺇ َّﻻِﺇ ُﻪﻠﻟﺍ ﻲِّﻧَﺃَﻭ
ﺭَﺳُﻮْﻝُ ِﻪﻠﻟﺍ َﻻ ﻰَﻘْﻠَﻳ َﻪﻠﻟﺍ ﺎَﻤِﻬِﺑ
ٌ،ﺪْﺒَﻋ َﺮْﻴَﻏ ٍّﻙﺎَﺷ ،ﺎَﻤِﻬْﻴِﻓ َّﻻِﺇ َﻞَﺧَﺩ
َﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ .
“… Aku bersaksi bahwa tidak ada
ilah yang berhak diibadahi dengan
benar kecuali hanya Allah dan
bahwasanya aku (Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah
utusan Allah, tidaklah seorang
hamba menjumpai Allah (dalam
keadaan) tidak ragu-ragu terhadap
kedua (syahadat)nya tersebut,
melainkan ia masuk Surga.”[4]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda:
… ْﺐَﻫْﺫﺍ َّﻲَﻠْﻌَﻨِﺑ ِ،ﻦْﻴَﺗﺎَﻫ ْﻦَﻤَﻓ َﺖْﻴِﻘَﻟ
ﻣِﻦْ ِﺀﺍَﺭَﻭ ﺍَﺬَﻫ ِﻂِﺋﺎَﺤْﻟﺍ ُﺪَﻬْﺸَﻳ ْﻥَﺃ َﻻ
ﺇِﻟَﻪَ َّﻻِﺇ ُﻪﻠﻟﺍ ﺎًﻨِﻘْﻴَﺘْﺴُﻣ ﺎَﻬِﺑ ُﻪُﺒْﻠَﻗ
ﺑِﻻْﺠَﻨَّﺔِ ُﻩْﺮِّﺸَﺒَﻓ …
“… Pergilah dengan kedua
sandalku ini, maka siapa saja yang
engkau temui di belakang kebun ini
yang ia bersaksi bahwa tidak ada
ilah yang berhak diibadahi dengan
benar selain Allah, dengan hati
yang meyakininya, maka
berikanlah kabar gembira
kepadanya dengan masuk
Surga.” [5]
Maka, syarat untuk masuk Surga
bagi orang yang mengucap-
kannya, yaitu hatinya harus yakin
dengannya (kalimat Tauhid) serta
tidak ragu-ragu terhadapnya.
Apabila syarat tersebut tidak ada
maka yang disyaratkan (masyrut)
juga tidak ada. Sahabat Ibnu
Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata:
ُﻦْﻴِﻘَﻴْﻟَﺍ ُﻥﺎَﻤْﻳِﻹْﺍ ُﻪُّﻠُﻛ ُﺮْﺒَّﺼﻟﺍَﻭ ُﻒْﺼِﻧ
ِﻥﺎَﻤْﻳِﻹْﺍ .
“Yakin adalah Iman secara
keseluruhan, dan sabar adalah
sebagian dari iman.”[6]
Tidak ada keraguan lagi
bahwasanya orang yang yakin
dengan makna laa ilaaha illallaah,
seluruh anggota tubuhnya akan
patuh beribadah kepada Allah Azza
wa Jalla yang tiada sekutu bagi-
Nya, dan akan mentaati Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh
karena inilah Sahabat Ibnu Mas’ud
Radhiyallahu anhu memohon
ditambahkan iman dan keyakinan
dengan berdo’a:
َّﻢُﻬَّﻠﻟَﺍ ﺎَﻧْﺩِﺯ ،ﺎًﻧﺎَﻤْﻳِﺇ ،ﺎًﻨْﻴِﻘَﻳَﻭ
ﺎًﻬْﻘِﻓَﻭ .
“Ya Allah, tambahkanlah kepada
kami keimanan, keyakinan, dan
kefahaman.” [7]
Syarat Ketiga: ُﺹَﻼْﺧِﻹْﺍ (al-ikhlaash)
Yaitu memurnikan amal perbuatan
dari segala kotoran-kotoran syirik,
dan mengikhlaskan segala macam
ibadah hanya kepada Allah.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
ِﺪُﺒْﻋﺎَﻓ ﺎَﻟَﺃ َﻦﻳِّﺪﻟﺍ ُﻪَﻟ ﺎًﺼِﻠْﺨُﻣ َﻪَّﻠﻟﺍ
ﺍﻟْﺨَﻻِﺺُ ُﻦﻳِّﺪﻟﺍ ِﻪَّﻠِﻟ
“… Maka beribadahlah kepada Allah
dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya. Ingatlah, hanya
kepunyaan Allah-lah agama yang
bersih (dari syirik)…” [Az-Zumar:
2-3]
Allah Azza wa Jalla juga berfirman:
ﺎَﻣَﻭ ﺍﻭُﺮِﻣُﺃ ﺎَّﻟِﺇ ﺍﻭُﺪُﺒْﻌَﻴِﻟ َﻪَّﻠﻟﺍ
ﺍﻟﺪِّﻳﻦَ ُﻪَﻟَﻦﻴِﺼِﻠْﺨُﻣ
“Padahal mereka tidak disuruh
kecuali supaya beribadah hanya
kepada Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya…” [Al-
Bayyinah: 5]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
ُﺪَﻌْﺳَﺃ ِﺱﺎَّﻨﻟﺍ ﻲِﺘَﻋَﺎﻔَﺸِﺑ َﻡْﻮَﻳ
ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ْﻦَﻣ َﻝﺎَﻗ َﻻ َﻪَﻟِﺇ َّﻻِﺇ ُﻪﻠﻟﺍ
ﻧَﻔْﺴِﻪِ ْﻭَﺃ ِﻪِﺒْﻠَﻗ ْﻦِﻣ ﺎًﺼِﻻَﺧ .
“Orang yang paling berbahagia
dengan syafa’atku pada hari
Kiamat nanti adalah orang yang
mengucapkan: ‘Laa ilaaha illallaah,’
dengan ikhlas dari hati atau
jiwanya.” [8]
Syarat Keempat: ُﻕْﺪِّﺼﻟَﺍ (ash-
shidqu)
Yaitu jujur, maksudnya
mengucapkan kalimat ini dengan
disertai pembenaran oleh hatinya.
Barangsiapa lisannya
mengucapkan namun hatinya
mendustakan, maka ia adalah
munafik dan pendusta.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
َﻦِﻣَﻭ ِﺱﺎَّﻨﻟﺍ ْﻦَﻣ ُﻝﻮُﻘَﻳ ﺎَّﻨَﻣﺁ ِﻪَّﻠﻻِﺑ
ﻭَﺑِﻻْﻴَﻮْﻡِ ِﺮِﺧﺂْﻟﺍ ﺎَﻣَﻭ ْﻢُﻫ
ﻦﻴِﻨِﻣْﺆُﻤِﺑ َﻥﻮُﻋِﺩﺎَﺨُﻳَ َﻪَّﻠﻟﺍ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍَﻭ
ﺍﻮُﻨَﻣﺁ ﺎَﻣَﻭ َﻥﻮُﻋَﺪْﺨَﻳ ﺎَّﻟِﺇ ْﻢُﻬَﺴُﻔْﻧَﺃ
ﻳَﺸْﻌُﺮُﻭﻥَ ﺎَﻣَﻭ
“Dan di antara manusia ada yang
mengatakan: ‘Kami beriman
kepada Allah dan hari kemudian,’
padahal mereka itu sesung-
guhnya bukan orang-orang yang
beriman. Mereka hendak me-nipu
Allah dan orang-orang yang
beriman, padahal mereka hanyalah
menipu dirinya sendiri sedang
mereka tidak sadar.” [Al-Baqarah:
8-9]
Juga firman Allah Azza wa Jalla
tentang orang munafik:
ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻝﻮُﺳَﺮَﻟ َﻚَّﻧِﺇ ُﺪَﻬْﺸَﻧ ﺍﻮُﻻَﻗ
“… Mereka berkata, ‘Kami bersaksi
bahwa engkau adalah
Rasulullah…’” [Al-Munafiquun: 1]
Kemudian Allah Azza wa Jalla
mendustakan mereka dengan
firman-Nya:
ُﻪَّﻠﻟﺍَﻭ ُﻢَﻠْﻌَﻳ َﻚَّﻧِﺇ ُﻪُﻟﻮُﺳَﺮَﻟ ُﻪَّﻠﻟﺍَﻭ
ﻟَﻜَﺎﺫِﺑُﻮﻥَ َﻦﻴِﻘِﻓﺎَﻨُﻤْﻟﺍ َّﻥِﺇ ُﺪَﻬْﺸَﻳ
“… Dan Allah mengetahui
bahwasanya engkau adalah
utusan-Nya dan Allah bersaksi
bahwasanya orang-orang munafik
itu berdusta.” [Al-Munaafiquun: 1]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
ﺎَﻣ ْﻦِﻣ ٍﺪَﺣَﺃ ُﺪَﻬْﺸَﻳ ْﻥَﺃ َﻻ َﻪَﻟِﺇ َّﻻِﺇ
ﺍﻟﻠﻪُ ﺎًﻗْﺪِﺻ ِﻪﻠﻟﺍ ُﻝْﻮُﺳَﺭ ﺍًﺪَّﻤَﺤُﻣ َّﻥَﺃَﻭ
ﻣِﻦْ ِﻪِﺒْﻠَﻗ َّﻻِﺇ ُﻪَﻣَّﺮَﺣ ُﻪﻠﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ
ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ .
“Tidaklah seseorang bersaksi
bahwa tidak ada ilah yang berhak
diibadahi dengan benar melainkan
Allah dan bahwasanya
Muhammad adalah Rasul Allah,
dengan jujur dari hatinya,
melainkan Allah
mengharamkannya masuk
Neraka.”[9]
Syarat Kelima: ُﺔَّﺒَﺤَﻤْﻟَﺍ (al-
mahabbah)
Yaitu cinta, maksudnya mencintai
kalimat tauhid ini, men-cintai isinya
dan apa-apa yang ditunjukkan
atasnya.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
َﻦِﻣَﻭ ِﺱﺎَّﻨﻟﺍ ُﺬِﺨَّﺘَﻳ ْﻦَﻣ ْﻦِﻣ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻥﻭُﺩ
ﺍًﺩﺍَﺪْﻧَﺃ ْﻢُﻬَﻧﻮُّﺒِﺤُﻳ ِّﺐُﺤَﻛ ِﻪَّﻠﻟﺍ
ﻟِﻠَّﻪِ ﺎًّﺒُﺣ ُّﺪَﺷَﺃ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍَﻭ
“Dan di antara manusia ada orang-
orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah,
mereka mencintainya
sebagaimana mereka mencintai
Allah. Dan orang-orang yang
beriman, sangat besar cinta
mereka kepada Allah….” [Al-
Baqarah: 165]
Allah Azza wa Jalla juga berfirman:
ْﻞُﻗ ْﻥِﺇ ْﻢُﺘْﻨُﻛ َﻥﻮُّﺒِﺤُﺗ َﻪَّﻠﻟﺍ
ﻲِﻧﻮُﻌِﺒَّﺗﺎَﻓ ُﻢُﻜْﺒِﺒْﺤُﻳ ُﻪَّﻠﻟﺍ ْﺮِﻔْﻐَﻳَﻭ
ﺭَﺣِﻴﻢٌ ٌﺭﻮُﻔَﻏ ُﻪَّﻠﻟﺍَﻭ ۗ ْﻢُﻜَﺑﻮُﻧُﺫ ْﻢُﻜَﻟ
“Katakanlah: ‘Jika kalian mencintai
Allah, maka ikutilah aku, niscaya
Allah mencintai kalian dan
mengampuni dosa-dosa kalian.
Dan sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha
Penyayang.” [Ali ‘Imran: 31]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
ٌﺙَﻼَﺛ ْﻦَﻣ َّﻦُﻛ ِﻪْﻴِﻓ َﺪَﺟَﻭ َّﻦِﻬِﺑ َﺓَﻭَﻼَﺣ
ِ:ﻥﺎَﻤْﻳِﻹْﺍ ْﻦَﻣ َﻥَﺎﻛ ُﻪﻠﻟﺍ ُﻪُﻟﻮُﺳَﺭَﻭ
ﺃَﺣَﺐَّ ِﻪْﻴَﻟِﺇ ﺎَّﻤِﻣ ،ﺎَﻤُﻫﺍَﻮِﺳ ْﻥَﺃَﻭ َّﺐِﺤُﻳ
ﺍﻟْﻤَﺮْﺀَ َﻻ َّﻻِﺇ ُﻪُّﺒِﺤُﻳ ِ،ﻪﻠﻟِ َﻩَﺮْﻜَﻳ ْﻥَﺃَﻭ
ﺃَﻥْ َﺩﻮُﻌَﻳ ِﺮْﻔُﻜْﻟﺍ ﻲِﻓ َﺪْﻌَﺑ ُﻩَﺬَﻘْﻧَﺃ ْﻥَﺃ
ﺍﻟﻠﻪُ ُ،ﻪْﻨِﻣ ُﻩَﺮْﻜَﻳ ﺎَﻤَﻛ ْﻥَﺃ ﻰِﻓ َﻑَﺬْﻘُﻳ
ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ .
“Tiga perkara yang bila ketiga-
tiganya terdapat pada seseorang ia
akan mendapatkan kelezatan iman:
(1) Allah dan Rasul-Nya lebih dia
cintai daripada selain keduanya, (2)
mencintai seseorang semata-mata
karena Allah, (3) tidak suka kembali
kepada kekufuran setelah Allah
menyelamatkannya, sebagaimana
ia tidak suka dicampakkan ke
dalam api.”[10]
Syarat Keenam: ُﺩﺎَﻴِﻘْﻧِﻹْﺍ (al-
inqiyaad)
Yaitu tunduk dan patuh. Seorang
Muslim harus tunduk dan patuh
terhadap apa-apa yang
ditunjukkan oleh kalimat laa ilaaha
illallaah, hanya beribadah kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala,
mengamalkan syari’at-syari’at-
Nya, beriman dengan-Nya, dan
berkeyakinan bahwasanya hal itu
adalah benar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
ﺍﻮُﺒﻴِﻧَﺃَﻭ ٰﻰَﻟِﺇ ْﻢُﻜِّﺑَﺭ ﺍﻮُﻤِﻠْﺳَﺃَﻭ ُﻪَﻟ
ﻣِﻦْ ِﻞْﺒَﻗ ُﻢُﻜَﻴِﺗْﺄَﻳ ْﻥَﺃ ُﺏﺍَﺬَﻌْﻟﺍ ﺎَﻟ َّﻢُﺛ
َﻥﻭُﺮَﺼْﻨُﺗ
“Dan kembalilah kamu kepada
Rabb-mu, dan berserah dirilah
kepada-Nya sebelum datang adzab
kepadamu kemudian kamu tidak
dapat ditolong (lagi).” [Az-Zumar:
54]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga
berfirman:
ْﻦَﻣَﻭ ُﻦَﺴْﺣَﺃ ﺎًﻨﻳِﺩ ْﻦَّﻤِﻣ َﻢَﻠْﺳَﺃ ُﻪَﻬْﺟَﻭ
ﻟِﻠَّﻪِ َﻮُﻫَﻭ ٌﻦِﺴْﺤُﻣ َﻊَﺒَّﺗﺍَﻭ َﺔَّﻠِﻣ
ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ﺎًﻔﻴِﻨَﺣ ۗ َﺬَﺨَّﺗﺍَﻭ ُﻪَّﻠﻟﺍ
ﺎًﻠﻴِﻠَﺧ َﻢﻴِﻫﺍَﺮْﺑِﺇ
“Dan siapakah yang lebih baik
agamanya daripada orang yang
ikhlas berserah diri kepada Allah,
sedang dia pun mengerjakan
kebaikan, dan dia mengikuti agama
Ibrahim yang lurus? Dan Allah
mengambil Ibrahim menjadi
kesayangan-Nya.” [An-Nisaa’: 125]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga
berfirman:
ْﻦَﻣَﻭ ْﻢِﻠْﺴُﻳ ُﻪَﻬْﺟَﻭ ﻰَﻟِﺇ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻮُﻫَﻭ
ﻣُﺤْﺴِﻦٌ ِﺪَﻘَﻓ َﻚَﺴْﻤَﺘْﺳﺍ ِﺓَﻭْﺮُﻌْﻻِﺑ
ﺍﻟْﻮُﺛْﻘَﻰٰ ۗ ﻰَﻟِﺇَﻭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﺔَﺒِﻗﺎَﻋ
ِﺭﻮُﻣُﺄْﻟﺍ
“Dan barangsiapa yang berserah
diri kepada Allah, sedang dia orang
yang berbuat kebaikan, maka
sesungguhnya ia telah berpegang
kepada buhul tali yang kokoh. Dan
hanya kepada Allah-lah kesudahan
segala urusan.” [Luqman: 22]
Syarat Ketujuh: ُﻝْﻮُﺒَﻘْﻟَﺍ (al-qabuul)
Yaitu menerima kandungan dan
konsekuensi dari kalimat syahadat
ini, menyembah Allah Azza wa
Jalla semata dan meninggalkan
ibadah kepada selain-Nya. Siapa
yang mengucapkan, tetapi tidak
menerima dan mentaati, maka ia
termasuk dari orang-orang yang
difirmankan Allah Azza wa Jalla :
ْﻢُﻬَّﻧِﺇ ﺍﻮُﻧﺎَﻛ َﻞﻴِﻗ ﺍَﺫِﺇ ْﻢُﻬَﻟ َﻪَٰﻟِﺇ ﺎَﻟ
ﺎَّﻟِﺇ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻥﻭُﺮِﺒْﻜَﺘْﺴَﻳ َﻥﻮُﻟﻮُﻘَﻳَﻭ
ﺎَّﻨِﺋَﺃ ﻮُﻛِﺭﺎَﺘَﻟ ﺎَﻨِﺘَﻬِﻟﺁ ٍﺮِﻋﺎَﺸِﻟ
ٍﻥﻮُﻨْﺠَﻣ
“Sesungguhnya mereka dahulu
apabila dikatakan kepada mereka:
‘Laa ilaaha illallaah (tidak ada ilah
yang berhak diibadahi dengan
benar selain Allah)’ mereka
menyombongkan diri, dan mereka
berkata: ‘Apakah sesungguhnya
kami harus meninggalkan
sesembahan-sesembahan kami
karena seorang penyair
gila?” [Ash-Shaaffaat: 35-36]
Ini seperti halnya penyembah
kubur di zaman ini. Mereka
mengikrarkan: “Laa ilaaha illallaah,”
tetapi tidak mau meninggalkan
penyembahan mereka terhadap
kuburan. Dengan demikian berarti
mereka belum menerima makna:
“Laa ilaaha illallaah.” [11]
Rukun Kalimat ُﻪﻠﻟﺍ َّﻻِﺇ َﻪَﻟِﺇ َﻻ
Kalimat َﻻ َﻪَﻟِﺇ َّﻻِﺇ ُﻪﻠﻟﺍ (laa ilaaha
illallaah) memiliki 2 rukun, yaitu:
1 .ُﻲْﻔَّﻨﻟﺍ , yaitu mengingkari
(menafikan) semua yang
disembah selain Allah Subhanahu
wa Ta’ala.
2. ُﺕﺎَﺒْﺛِﻹْﺍ , yaitu menetapkan
ibadah hanya kepada Allah Azza
wa Jalla saja.
Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
ْﻦَﻤَﻓ ْﺮُﻔْﻜَﻳ ِﺕﻮُﻏﺎَّﻄﻻِﺑ ْﻦِﻣْﺆُﻳَﻭ
ﺑِﻻﻠَّﻪِ ِﺪَﻘَﻓ َﻚَﺴْﻤَﺘْﺳﺍ ِﺓَﻭْﺮُﻌْﻻِﺑ
ﺍﻟْﻮُﺛْﻘَﻰٰ ﺎَﻟ َﻡﺎَﺼِﻔْﻧﺍ ﺎَﻬَﻟ ۗ ُﻪَّﻠﻟﺍَﻭ
ﻋَﻠِﻴﻢٌ ٌﻊﻴِﻤَﺳ
“… Barangsiapa yang kufur kepada
thaghut dan beriman kepada Allah,
maka sungguh ia telah berpegang
kepada buhul tali yang sangat
kokoh dan tidak akan putus, dan
Allah Maha Mendengar dan Maha
Mengetahui.” [Al-Baqarah: 256]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga
berfirman:
ْﺪَﻘَﻟَﻭ ﺎَﻨْﺜَﻌَﺑ ِّﻞُﻛ ﻲِﻓ ٍﺔَّﻣُﺃ ِﻥَﺃ ﺎًﻟﻮُﺳَﺭ
ﺍﻭُﺪُﺒْﻋﺍ ۖ َﺕﻮُﻏﺎَّﻄﻟﺍ ﺍﻮُﺒِﻨَﺘْﺟﺍَﻭ َﻪَّﻠﻟﺍ
ﻓَﻤِﻨْﻬُﻢْ ْﻦَﻣ ﻯَﺪَﻫ ُﻪَّﻠﻟﺍ ْﻢُﻬْﻨِﻣَﻭ ْﻦَﻣ
ﺣَﻘَّﺖْ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﺔَﻻَﻠَّﻀﻟﺍ ۚ ﺍﻭُﺮﻴِﺴَﻓ ﻲِﻓ
ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺍﻭُﺮُﻈْﻧﺎَﻓ َﻒْﻴَﻛ َﻥﺎَﻛ ُﺔَﺒِﻗﺎَﻋ
َﻦﻴِﺑِّﺬَﻜُﻤْﻟﺍ
“Dan sesungguhnya Kami telah
mengutus Rasul pada tiap-tiap
ummat (untuk menyerukan):
‘Beribadahlah kepada Allah (saja),
dan jauhilah thaghut itu, maka di
antara ummat itu ada yang diberi
petunjuk oleh Allah dan ada pula di
antaranya orang-orang yang telah
pasti kesesatan baginya. Maka
berjalanlah kamu di muka bumi
dan perhatikanlah bagaimana
kesudahan orang-orang yang
mendustakan (Rasul-rasul).” [An-
Nahl: 36]
Makna Kalimat ٌﺪَّﻤَﺤُﻣ ُﻝْﻮُﺳَﺭ ِﻪﻠﻟﺍ
(Muhammad Rasulullah) [12]
Makna dari syahadat ٌﺪَّﻤَﺤُﻣ ُﻝْﻮُﺳَﺭ
ِﻪﻠﻟﺍ (Muhammad Rasulullah)
adalah:
1. ُﻪُﺘَﻋﺎَﻃ َﺮَﻣَﺃ ﺎَﻤْﻴِﻓ , yaitu mentaati
apa-apa yang beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam perintahkan.
2. ُﻪُﻘْﻳِﺪْﺼَﺗ ﺎَﻤْﻴِﻓ َﺮَﺒْﺧَﺃ , yaitu
membenarkan apa-apa yang
beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
sampaikan.
3. ُﺏﺎَﻨِﺘْﺟِﺍ ﺎَﻣ ﻰَﻬَﻧ ُﻪْﻨَﻋ َﺮَﺟَﺯَﻭ ,
yaitu menjauhkan diri dari apa-apa
yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam larang.
4. ْﻥَﺃ َﻻ َﺪُﺒْﻌَﻳ َﻪﻠﻟﺍ َّﻻِﺇ ﺎَﻤِﺑ َﻉَﺮَﺷ ,
yaitu tidak beribadah kepada Allah
melainkan dengan cara yang telah
disyari’atkan. Artinya, kita wajib
beribadah kepada Allah menurut
apa yang disyari’atkan dan
dicontohkan oleh Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita
wajib ittiba’ kepada beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tentang makna dan konsekuensi
kalimat ٌﺪَّﻤَﺤُﻣ ُﻝْﻮُﺳَﺭ ِﻪﻠﻟﺍ
(Muhammad Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam) akan dibahas
lebih lanjut pada point ke-24:
Wajibnya Mencintai dan
Mengagungkan Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
(hal.253).
[Disalin dari kitab Syarah Aqidah
Ahlus Sunnah Wal Jama’ah,
Penulis Yazid bin Abdul Qadir
Jawas, Penerbit Pustaka Imam
Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC
13340A Jakarta, Cetakan Ketiga
1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. Lihat ‘Aqiidatut Tauhid (hal.
39-40) oleh Syaikh Dr. Shalih bin
Fauzan bin ‘Ab-dullah al-Fauzan.
[2]. Tentang syarat-syarat َﻻ َﻪَﻟِﺇ
ﺇِﻻَّ ُﻪﻠﻟﺍ lihat Ma’aarijul Qabuul
(I/333-339) oleh Syaikh Hafizh bin
Ahmad Hakami, Tuhfatul Ikhwaan
bi Ajwibah Muhimmah Tata’allaqu
bi Arkaanil Islaam (hal. 24-26) oleh
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah
bin Baaz dan ‘Aqiidatut Tauhiid
(hal. 42-45) oleh Syaikh Dr. Shalih
bin Fauzan bin ‘Abdullah al-Fauzan.
[3]. HR. Muslim (no. 26), Ahmad
(I/65, 69) dan Abu ‘Awanah (I/7),
dari Sahabat ‘Utsman bin ‘Affan
Radhiyallahu anhu.
[4]. HR. Muslim (no. 27) dari
Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu
anhu.
[5]. HR. Muslim (no. 31) dari
Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu
anhu.
[6]. Diriwayatkan oleh Imam al-
Bukhari secara mu’allaq dan pasti.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata,
“Riwayat ini dimaushulkan
(disambungkan) oleh Imam ath-
Thab-rani (no. 8544), dari Sahabat
‘Abdullah bin Mas’ud, dengan
sanad yang shahih.” (Fat-hul Baari
(I/48)).
[7]. Atsar ini diriwayatkan oleh
‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam
as-Sunnah (I/368, no. 797) dan al-
Laalika-i dalam Syarah Ushuul
I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah
(no. 1704). Al-Hafizh Ibnu Hajar
dalam Fat-hul Baari (I/48)
menyatakan bahwa sanadnya
shahih.
[8]. HR. Al-Bukhari (no. 99 dan
6570) dan Ahmad (II/373), dari
Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu
anhu.
[9]. HR. Al-Bukhari (no. 128) dan
Muslim (no. 32) dari hadits Muadz
bin Jabal Radhiyallahu anhu.
[10]. HR. Al-Bukhari (no. 16, 21,
6041) dan Muslim (no. 43 (67)),
dari Sahabat Abu Said al-Khudri
Radhiyallahu anhu.
[11]. Lihat ‘Aqiidatut Tauhiid (hal.
44).
[12]. Lihat Syarah Tsalaatsil Ushuul
(hal. 75) oleh Syaikh Muhammad
bin Shalih al-‘Utsaimin
rahimahullah.

Pembagian tauhid

Pertanyaan
Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi Al-
Atsari ditanya : Selama ini dalam
berbagai kesempatan, saya banyak
mendengar dari orang-orang yang
mengatakan bermanhaj dan
beraqidah Salaf, membagi tauhid
menjadi Tauhid Rububiyah, Tauhid
Uluhiyah dan Tauhid Asma wa
Sifat. Dari manakah pembagian ini,
mengingat di dalam Al-Qur’an dan
hadits tidak disebutkan. Dan
menurut kami, hal itu tidak didapati
pula pada zaman Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
ataupun shahabat. Bukankah
pernyataan tersebut termasuk
suatu perkara baru (muhdats) dan
tidak ada dalilnya?..
Jawaban
Kami katakan, bahwa pembagian
yang disyaratkan tersebut
kedudukannya seperti pembagian
para pakar ilmu Nahwu terhadap
kata dalam bahasa Arab menjadi
isim (nama), fi’il (kata kerja) dan
harf (imbuhan). Apakah yang
demikian itu suatu hal tercela,
padahal sesuai dengan kenyataan
dan hakekat perkaranya.
Betapa tepatnya perkataan Syaikh
Bakr Abu Zaid dalam risalahnya
“At-Tahdzir” halaman 30 berkisar
pembagian tauhid. Kata beliau :
“Pembagian ini adalah hasil istiqra
(telaah) para ulama Salaf terdahulu
seperti yang diisyaratakan oleh
Ibnu Mandah dan Ibnu Jarir Ath-
Thabari serta yang lainnya. Hal ini
pun diakui oleh Ibnul Qayim.
Begitu pula Syaikh Zabidi dalam
“Taaj Al-Aruus” dan Syaikh
Syanqithi dalam “Adhwa Al-
Bayaan” dan yang lainnya.
Semoga Allah merahmati
semuanya
Ini adalah hasil telaah yang
paripurna dari nash-nash syar’i ,
seperti yang dikenal dalam setiap
bidang ilmu. Seperti hasil tela’ah
pakar ilmu Nahwu terhadap
bahasa Arab menjadi : isim, fi’il
dan harf. Dan orang-orang Arab
tidak mencela dan melecehkan
para pakar Nahwu tersebut
terhadap hasil tela’ahnya”.
Berkata Syaikh Al-Baijuri dalam
“Syarh Jauharah At-Tauhid”
halaman 97. Firman Allah ;
‘Alhamdulillahir rabbil ‘alamiin’,
mengisyaratkan pada pengakuan
‘Tauhid Rububiyah, yang
konsekwensinya adalah
pengakuan terhadap Tauhid
Uluhiyah. Adapun konsekwensi
Tauhid Uluhiyah adalah
terlaksananya Ubudiyah. Hal ini
menjadi kewajiban pertama bagi
seorang hamba untuk mengenal
Allah Yang Maha Suci. Kata beliau
selanjutnya : “Kebanyakan surat-
surat Al-Qur’an dan ayat-ayatnya
mengandung macam-macam
tauhid ini, bahkan Al-Qur’an dari
awal hingga akhir menerangkan
dan mengejawantahkan
(menjelaskan)”.
Kami katakan : “Sesungguhnya
pembagian tauhid menjadi tiga ini,
dikandung dalam banyak surat di
dalam Al-Qur’an Al-Karim. Yang
paling tampak serta paling jelas
adalah dalam dua surat, yaitu Al-
Fatihah dan An-Naas, dimana
keduanya adalah pembuka dan
penutup Al-qur’an.
Oleh karena itu firman-Nya Yang
Maha Suci ; ‘Alhamdulillahir rabbil
‘alamiin’, mengandung
pengukuhan akan ke-rububiyah-an
Allah Jalla wa Alaa terhadap
seluruh makhluk-Nya, dan firman-
Nya Yang Maha Suci : ‘Ar-
Rahmanir Rahiim Maliki Yaumid
Diin’ di disini mengandung
pengukuhan terhadap sifat-sifat-
Nya Yang Maha Tinggi dan nama-
nama-Nya Yang Maha Mulia,
sedangkan firman-Nya Yang Maha
Suci : ‘Iyaaka Na’budu Wa Iyaaka
Nasta’iin’ di sana mengandung
pengukuhan ke-ubudiyah-an
seluruh makhluk kepada-Nya dan
ke-uluhiyah-an Allah atas mereka.
Kemudian berkata Imam Ibnu
Athiyah (wafat ; 546H) dalam
kitabnya Al-Muharrar Al-Wajiiz, juz
I, hal.75. Firman-Nya : ‘Iyaaka
Na’budu’ adalah ucapan seorang
yang beriman kepada-Nya yang
menunjukkan pengakuan terhadap
ke-rububiyah-an Allah, mengingat
kebanyakan manusia beribadah
kepada selain-Nya yang berupa
berhala-berhala dan lain
sebagainya”.
Jadi pembagian tauhid menjadi tiga
tersebut adalah pembagian secara
ilmu dan merupakan hasil tela’ah
seperti yang dikenal dalam kaidah
keilmuan. Barangsiapa yang
mengingkarinya berarti tidak ber-
tafaquh terhadap Kitab Allah, tidak
mengetahui kedudukan Allah,
mengetahui sebagian dan tidak
mengetahui sebagian yang
lainnya. Allah pemberi petunjuk ke
jalan nan lurus kepada siapa yang
Dia kehendaki.
Wallahu ‘alam
[Diangkat dari rubrik soal-jawab
majalah Al-Ashalah edisi 4 Syawal
1413H. Disalin ulang oleh Majalah
As-Sunnah Edisi 14/II/1416 – 1995.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah
Surakarta, Alamat Gedung Umat
Islam Lt. II Jl. Kartopuran 241A
Surakarta 57152].

Pembagian tauhid

Pertanyaan
Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi Al-
Atsari ditanya : Selama ini dalam
berbagai kesempatan, saya banyak
mendengar dari orang-orang yang
mengatakan bermanhaj dan
beraqidah Salaf, membagi tauhid
menjadi Tauhid Rububiyah, Tauhid
Uluhiyah dan Tauhid Asma wa
Sifat. Dari manakah pembagian ini,
mengingat di dalam Al-Qur’an dan
hadits tidak disebutkan. Dan
menurut kami, hal itu tidak didapati
pula pada zaman Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
ataupun shahabat. Bukankah
pernyataan tersebut termasuk
suatu perkara baru (muhdats) dan
tidak ada dalilnya?..
Jawaban
Kami katakan, bahwa pembagian
yang disyaratkan tersebut
kedudukannya seperti pembagian
para pakar ilmu Nahwu terhadap
kata dalam bahasa Arab menjadi
isim (nama), fi’il (kata kerja) dan
harf (imbuhan). Apakah yang
demikian itu suatu hal tercela,
padahal sesuai dengan kenyataan
dan hakekat perkaranya.
Betapa tepatnya perkataan Syaikh
Bakr Abu Zaid dalam risalahnya
“At-Tahdzir” halaman 30 berkisar
pembagian tauhid. Kata beliau :
“Pembagian ini adalah hasil istiqra
(telaah) para ulama Salaf terdahulu
seperti yang diisyaratakan oleh
Ibnu Mandah dan Ibnu Jarir Ath-
Thabari serta yang lainnya. Hal ini
pun diakui oleh Ibnul Qayim.
Begitu pula Syaikh Zabidi dalam
“Taaj Al-Aruus” dan Syaikh
Syanqithi dalam “Adhwa Al-
Bayaan” dan yang lainnya.
Semoga Allah merahmati
semuanya
Ini adalah hasil telaah yang
paripurna dari nash-nash syar’i ,
seperti yang dikenal dalam setiap
bidang ilmu. Seperti hasil tela’ah
pakar ilmu Nahwu terhadap
bahasa Arab menjadi : isim, fi’il
dan harf. Dan orang-orang Arab
tidak mencela dan melecehkan
para pakar Nahwu tersebut
terhadap hasil tela’ahnya”.
Berkata Syaikh Al-Baijuri dalam
“Syarh Jauharah At-Tauhid”
halaman 97. Firman Allah ;
‘Alhamdulillahir rabbil ‘alamiin’,
mengisyaratkan pada pengakuan
‘Tauhid Rububiyah, yang
konsekwensinya adalah
pengakuan terhadap Tauhid
Uluhiyah. Adapun konsekwensi
Tauhid Uluhiyah adalah
terlaksananya Ubudiyah. Hal ini
menjadi kewajiban pertama bagi
seorang hamba untuk mengenal
Allah Yang Maha Suci. Kata beliau
selanjutnya : “Kebanyakan surat-
surat Al-Qur’an dan ayat-ayatnya
mengandung macam-macam
tauhid ini, bahkan Al-Qur’an dari
awal hingga akhir menerangkan
dan mengejawantahkan
(menjelaskan)”.
Kami katakan : “Sesungguhnya
pembagian tauhid menjadi tiga ini,
dikandung dalam banyak surat di
dalam Al-Qur’an Al-Karim. Yang
paling tampak serta paling jelas
adalah dalam dua surat, yaitu Al-
Fatihah dan An-Naas, dimana
keduanya adalah pembuka dan
penutup Al-qur’an.
Oleh karena itu firman-Nya Yang
Maha Suci ; ‘Alhamdulillahir rabbil
‘alamiin’, mengandung
pengukuhan akan ke-rububiyah-an
Allah Jalla wa Alaa terhadap
seluruh makhluk-Nya, dan firman-
Nya Yang Maha Suci : ‘Ar-
Rahmanir Rahiim Maliki Yaumid
Diin’ di disini mengandung
pengukuhan terhadap sifat-sifat-
Nya Yang Maha Tinggi dan nama-
nama-Nya Yang Maha Mulia,
sedangkan firman-Nya Yang Maha
Suci : ‘Iyaaka Na’budu Wa Iyaaka
Nasta’iin’ di sana mengandung
pengukuhan ke-ubudiyah-an
seluruh makhluk kepada-Nya dan
ke-uluhiyah-an Allah atas mereka.
Kemudian berkata Imam Ibnu
Athiyah (wafat ; 546H) dalam
kitabnya Al-Muharrar Al-Wajiiz, juz
I, hal.75. Firman-Nya : ‘Iyaaka
Na’budu’ adalah ucapan seorang
yang beriman kepada-Nya yang
menunjukkan pengakuan terhadap
ke-rububiyah-an Allah, mengingat
kebanyakan manusia beribadah
kepada selain-Nya yang berupa
berhala-berhala dan lain
sebagainya”.
Jadi pembagian tauhid menjadi tiga
tersebut adalah pembagian secara
ilmu dan merupakan hasil tela’ah
seperti yang dikenal dalam kaidah
keilmuan. Barangsiapa yang
mengingkarinya berarti tidak ber-
tafaquh terhadap Kitab Allah, tidak
mengetahui kedudukan Allah,
mengetahui sebagian dan tidak
mengetahui sebagian yang
lainnya. Allah pemberi petunjuk ke
jalan nan lurus kepada siapa yang
Dia kehendaki.
Wallahu ‘alam
[Diangkat dari rubrik soal-jawab
majalah Al-Ashalah edisi 4 Syawal
1413H. Disalin ulang oleh Majalah
As-Sunnah Edisi 14/II/1416 – 1995.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah
Surakarta, Alamat Gedung Umat
Islam Lt. II Jl. Kartopuran 241A
Surakarta 57152].

12 golongan yg di doakan malaikat

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka
malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia
tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah,
ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam
keadaan suci”. (HR Imam Ibnu Hibban dari Abdullah
bin Umar)
2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu
shalat.
“Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk
menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan
suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya
Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’ (HR
Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Muslim
469)
3. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan
di dalam shalat berjamaah.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya
bershalawat kepada (orang – orang) yang berada
pada shaf – shaf terdepan” (Imam Abu Dawud (dan
Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib)
4. Orang-orang yang menyambung shaf pada sholat
berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di
dalam shaf).
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu
bershalawat kepada orang-orang yang menyambung
shaf-shaf” (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah,
Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim
meriwayatkan dari Aisyah)
5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika
seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
“Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi
‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh
kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu
bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan
diampuni dosanya yang masa lalu” (HR Imam
Bukhari dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari 782)
6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah
melakukan shalat.
“Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa )
kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di
dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat,
selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat)
berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'” (HR
Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no.
8106)
7. Orang-orang yang melakukan shalat shubuh dan
‘ashar secara berjama’ah.
“Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh
lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada
malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga
shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang
hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi
pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang
ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar)
naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas
pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya
kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan
hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang
sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan
kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang
melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada
hari kiamat'” (HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al
Musnad no. 9140)
8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa
sepengetahuan orang yang didoakan.
“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang
dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang
didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada
kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil
baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya
dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut
berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa
yang ia dapatkan’ (HR Imam Muslim dari Ummud
Darda’, Shahih Muslim 2733)
9. Orang-orang yang berinfak.
“Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang
hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun
kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata,
‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang
berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah,
hancurkanlah harta orang yang pelit'” (HR Imam
Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih
Bukhari 1442 dan Shahih Muslim 1010)
10. Orang yang sedang makan sahur.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya
bershalawat (berdoa ) kepada orang-orang yang
sedang makan sahur” Insya Allah termasuk disaat
sahur untuk puasa”sunnah” (HR Imam Ibnu Hibban
dan Imam Ath Thabrani, dari Abdullah bin Umar)
11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
“Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya
kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat
untuknya yang akan bershalawat kepadanya di
waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu
malam kapan saja hingga shubuh” (HR Imam Ahmad
dari ‘Ali bin Abi Thalib, Al Musnad 754)
12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan
kepada orang lain.
“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah
bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling
rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni
langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam
lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat
kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada
orang lain” (HR Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al
Bahily)
SUMBER:
http://islameksiklopedia.blogspot.com/2013/07/12-
golongan-yang-didoakan-malaikat.html